Dari Hormuz ke Malaka: Logika Geopolitik di Balik Kemitraan Strategis AS-Indonesia
Ketegangan di sekitar Selat Hormuz, di mana Amerika Serikat mengintensifkan tekanan melalui blokade laut terhadap aktivitas maritim yang terkait dengan…
Ketegangan di sekitar Selat Hormuz, di mana Amerika Serikat mengintensifkan tekanan melalui blokade laut terhadap aktivitas maritim yang terkait dengan…
manifestasi konkret dari realitas geopolitik kontemporer: transisi menuju tatanan multipolar yang didorong oleh kolaborasi teknologi Poros Timur; Rusia, Cina, dan Iran
Blokade Selat Hormuz yang kini telah berlaku efektif sejak 13 April 2026 bukan sekadar pukulan telak bagi pasokan minyak global.
Blokade angkatan laut Amerika Serikat terhadap pelabuhan dan kawasan pantai Iran di Selat Hormuz, yang dimulai efektif Senin 13 April…
Fenomena shadow fleet, armada tanker tua yang beroperasi di wilayah abu-abu hukum, menjadi manifestasi konkret dari bagaimana sanksi ekonomi bertransformasi menjadi instrumen maritime coercion.
Yang terungkap bukan sekadar kekalahan taktis, melainkan retakan struktural dalam fondasi hegemoni Washington.
Ketika “Iranian Rial to USD” menunjukkan IRR = USD 0,00 di April 2026, banyak yang melihat kegagalan negara.
Konflik di Selat Hormuz bukan lagi sekadar ketegangan regional antara Iran dan poros Barat. Ia telah menjadi laboratorium geopolitik kontemporer yang menguji fondasi perang hibrida abad ke-21 secara paling brutal.
Tulisan ini menganalisis eskalasi konflik Iran-Amerika Serikat pasca penolakan Iran terhadap proposal damai Washington pada Maret 2026, serta implikasi pengerahan tambahan pasukan Amerika Serikat di Timur Tengah terhadap stabilitas global dan legitimasi hukum internasional.