Selat Malaka: Paradoks Kedaulatan Negara Pantai di Tengah Geopolitik Maritim Global
Pendahuluan Krisis di Selat Hormuz membuktikan bahwa stabilitas jalur pelayaran internasional tidak pernah sepenuhnya ditentukan oleh hukum laut, melainkan oleh…
Pendahuluan Krisis di Selat Hormuz membuktikan bahwa stabilitas jalur pelayaran internasional tidak pernah sepenuhnya ditentukan oleh hukum laut, melainkan oleh…
Keputusan Kementerian Pertahanan mengubah nomenklatur Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) menjadi Latihan Pembekalan Bela Negara dan Manajerial (LATSARMIL-MAN) bukan sekadar perubahan…
manifestasi konkret dari realitas geopolitik kontemporer: transisi menuju tatanan multipolar yang didorong oleh kolaborasi teknologi Poros Timur; Rusia, Cina, dan Iran
Blokade Selat Hormuz yang kini telah berlaku efektif sejak 13 April 2026 bukan sekadar pukulan telak bagi pasokan minyak global.
Meski lalu lintas kapal komersial mulai berdenyut secara selektif, Iran tetap memberlakukan “koordinasi wajib” dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC)
Amerika Serikat masih saja gigih memerankan diri sebagai global liberator, sementara realitas di lapangan, dari Kabul yang porak-poranda hingga Kiev yang berdarah-darah, menjeritkan kegagalan sistemik
Blokade angkatan laut Amerika Serikat terhadap pelabuhan dan kawasan pantai Iran di Selat Hormuz, yang dimulai efektif Senin 13 April…
Fenomena shadow fleet, armada tanker tua yang beroperasi di wilayah abu-abu hukum, menjadi manifestasi konkret dari bagaimana sanksi ekonomi bertransformasi menjadi instrumen maritime coercion.
Yang terungkap bukan sekadar kekalahan taktis, melainkan retakan struktural dalam fondasi hegemoni Washington.