Implikasi Geopolitik Jangka Panjang: Retrenchment AS, Kebangkitan Iran, dan Percepatan Multipolaritas
Yang terjadi di Timur Tengah adalah disrupsi strategis sistemik terhadap arsitektur keamanan Amerika Serikat di kawasan
Yang terjadi di Timur Tengah adalah disrupsi strategis sistemik terhadap arsitektur keamanan Amerika Serikat di kawasan
Tulisan ini mengkaji transformasi strategis Republik Islam Iran dalam menghadapi tekanan sistemik sejak Revolusi Iran 1979 melalui lensa teoritis realisme dan konstruktivisme, serta pendekatan action research.
Tulisan ini menganalisis eskalasi konflik Iran-Amerika Serikat pasca penolakan Iran terhadap proposal damai Washington pada Maret 2026, serta implikasi pengerahan tambahan pasukan Amerika Serikat di Timur Tengah terhadap stabilitas global dan legitimasi hukum internasional.
Konflik antara Iran dan Amerika Serikat pada 2026 merepresentasikan karakter klasik perang asimetris, di mana aktor yang relatif lebih lemah tidak dituntut untuk menang secara ofensif, melainkan cukup bertahan untuk mengubah persepsi kemenangan strategis.
The escalation of armed confrontation between the United States and Iran entered a decisive phase when President Donald Trump announced the commencement of major combat operations in late February 2026, followed by coordinated airstrikes with Israel on 28 February 2026.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terus meningkat hingga level yang mengkhawatirkan, dengan persiapan militer dan retorika perang yang semakin keras dari kedua belah pihak.
Pada tahun 2025, dunia dikejutkan oleh keputusan tujuh negara Asia, Tiongkok, Rusia, Iran, Korea Utara, Suriah, Myanmar, dan Afghanistan yang secara hampir bersamaan memutus hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat.