Artikel ini sudah tayang di https://maritimnews.com/2016/06/laksda-tni-surya-wiranto-tegaskan-kapal-perang-ri-tidak-pernah-lari/
Staf Ahli Bidang Wilayah dan Pembangunan Daerah Kemenko Polhukam Laksda TNI Surya Wiranto, S.H, MH mengkritisi berita tentang masuknya armada laut China ke wilayah perairan Indonesia. Masuknya armada tersebut terkait dengan pengejaran KRI Hiu yang hendak menangkap kapal illegal fishing asal China.
Kemudian disebutkan dalam berita itu, Kapal Perang RI (KRI) milik TNI AL lari saat armada China memasuki wilayah perairan kita.
Dalam berita yang dirilis oleh nusantaranews.com pada 31 Mei 2016 menyebut kapal patroli TNI AL KRI Hiu berhasil menangkap kapal nelayan Kway Fey di perairan Indonesia. Tapi upaya penyitaan itu berhasil digagalkan oleh sebuah kapal patroli China yang nekat menerobos batas wilayah dan melakukan penabrakan terhadap kapal Kway Fey hingga rusak parah. Tak lama berselang muncul Coast Guard China kedua, yang berada dalam posisi siap tempur.
Kalah jumlah dan senjata, TNI AL akhirnya membiarkan Kway Fey yang rusak parah dibawa keluar perbatasan perairan NKRI. Insiden Kway Fey menjadi menarik karena sudah menghadirkan armada laut China di sekitar perairan Kepulauan Natuna.
Menanggapi penulisan berita tersebut, Pati TNI AL Bintang Dua itu langsung berkomentar dalam akun facebook-nya.
“Berita diatas harus dikoreksi karena kejadian tgl 19 Maret 2016 tsb bukan KRI HIU TNI AL tapi KM HIU PSDKP KKP. Kalau Kapal Perang RI TIDAK PERNAH LARI dari medan pertempuran, apalagi hanya berhadapan dengan kapal Patroli perikanan asing,” tulis Surya.
Selanjutnya, Penulis Buku “Resolusi Konflik Menghadapi Sengketa Laut Tiongkok Selatan” juga meminta kepada Redaktur agar tidak mencampur-adukkan kejadian tanggal 19 Maret dengan kejadian tanggal 27 Mei yang melibatkan KRI Oswald Siahaan-354.
“KRI Oswald berhasil melumpuhkan kapal ikan dengan tembakan & tanpa ada perlawanan dari kapal pengawal Coast Guard China yang hanya bisa menyaksikan kejadian tersebut dari jarak jauh. Kapal ikan tersebut juga sudah dikawal ke Ranai Kepulauan Natuna,” lanjutnya dalam status facebook.
Di akhir statusnya, lulusan AAL tahun 1982 yang kerap memberikan seminar kemaritiman itu mengimbau agar ke depannya berita tersebut tidak terulang lagi. Karena dapat membahayakan publik terkait berita-berita bohong.
“Demikian klarifikasi Saya agar tidak ada pembohongan publik,” tutupnya.
