Artikel ini sudah tayang di https://maritimnews.com/2016/06/kedaulatan-nkri-jadi-harga-mati-dalam-pembahasan-konflik-lcs/
Acara bertajuk Maritime Learning Centre yang diselengarakan oleh Assosiasi Pemuda Maritim Indonesia (APMI) dan maritimnews.com untuk pertama kalinya digelar di Kantor Redaksi maritimnews.com, Jalan Prapanca 101, Cipete, Jakarta Selatan (10/6). Acara diskusi yang mengangkat tema ‘Peran Strategis Indonesia dalam Menegakan Kedaulatan di Tengah Konflik Laut China Selatan’ itu dibawakan oleh Staf Ahli Bidang Wilayah dan Pembangunan Daerah Kemenko Polhukam Laksda TNI Surya Wiranto, S.H, MH.
Sebelum dimulainya diskusi, Pemimpin Usaha maritimnews.com, Ardinanda Sinulingga dalam sambutannya mengutarakan acara ini merupakan bentuk komitmen maritimnews.com sebagai media yang fokus mengangkat isu kemaritiman juga turut memformulasikan pemecahan masalah yang melanda bangsa dan negara kita. Selain itu, dia juga memaparkan sejarah berdirinya maritimnews.com sebagai solusi kekosongan pemberitaan yang concern terhadap pencapaian poros maritim dunia.
Terutama terkait dengan eskalasi konflik Laut China Selatan (LCS) yang dipandang dalam aspek geopolitik dan diplomasi maritim perlu dipertegas melalui sebuah kebijakan nasional. Nanda biasa akrab disapa mengingatkan perlu pembahasan yang khusus dan mendalam untuk mengurai fenomena tersebut.
“Dari diskusi yang dibungkus dengan Buka Puasa Bersama ini diharapkan mampu menghasilkan suatu rumusan konsep untuk menjawab permasalahan bagaimana sikap Indonesia atas konflik LCS,” ujar Nanda.
Sedangkan Ketua APMI, Reynaldi Bahri Tambunan dalam sambutannya menyampaikan peran APMI dalam membangun karakter pemuda yang bervisi maritim, salah satunya dengan membangun diskusi-diskusi seperti ini. Selanjutnya, lulusan Kelautan Undip itu mengucapkan rasa terima kasihnya kepada pihak-pihak yang sudah membantu dalam penyelenggaraan acara ini.
“Sebagai pemuda maritim kita juga harus concern terhadap masalah-masalah maritim yang melanda negeri kita, salah satunya ialah terkait isu konflik LCS ini. Agar ke depannya kami sebagai pemuda maritim memiliki pandangan yang komprehensif terhadap isu ini,” ungkap Reynaldi.
Laksda TNI Surya Wiranto dalam jalannya diskusi menyebut peran pemuda sangat penting dalam pembangunan bangsa dan negara. Oleh karena itu, harus mengetahui permasalahan yang mendalam, salah satunya terhadap konflik LCS.
“Anak muda sebagai wadah gagasan yang harus memiliki prinsip untuk melihat sesuatu secara jelas. Kalau salah katakan salah dan benar katakan benar terhadap apa pun termasuk kepada kebijakan pemerintah,” kata Surya.
Dengan tegas, lulusan AAL tahun 1982 itu menyatakan agar Kedaulatan NKRI menjadi harga mati dalam memandang isu LCS. Sebagaimana pesan Panglima Besar Jenderal Sudirman dahulu, agar setiap jengkal tanah harus dipertahankan.
“Kalau dulu zaman Pak Dirman masih di tanah tempat bertempurnya. Tetapi saat ini sudah tanah air termasuk lautan yang harus dipertahankan. Apalagi negara kita adalah negara maritim,” ulas mantan Wadanseskoal tersebut.
Perwira Tinggi TNI AL yang juga berstatus sebagai akademisi ini mengatakan konflik LCS merupakan sebuah isu yang digadang-gadang sebagai salah satu faktor pecahnya Perang Dunia ketiga. Hal itu mengingat agresifitas China yang begitu besar untuk bisa melakukan ekspansi dan kelak juga akan berhadapan dengan hegemoni Amerika Serikat.
“Salah satu upaya yang mereka lakukan adalah membuat batas wilayah yang berada di luar Perjanjian Internasional dengan nama “Nine Dotted Line”. Klaim mereka itu juga merambah wilayah ZEE kita,” tandasnya.
Dari klaim itu, timbullah permasalahan dengan negara-negara claimant state yakni Filipina, Vietnam, Brunei, dan Malaysia.
Di samping itu, negara-negara yang tidak terkait batas wilayah dengan area konflik namun memiliki dampak baik secara politik maupun ekonomi akibat ulah China juga turut terlibat. Sebut saja Jepang, AS dan India, di mana hal tersebut semakin menghangatkan konstelasi di kawasan ini.
Kemudian terkait non governance actor yakni pihak private yang memiliki kepentingan-kepentingan bisnis di wilayah yang diklaim China juga turut meramaikan ketegangan yang terjadi.
Namun, terlepas dari itu semua, Surya menegaskan terhadap bagaimana sikap Indonesia seharusnya. “Jelas jika kita melihat peta yang dibuat oleh China di situ ada kurang lebih sekitar 83.000 km2 wilayah Indonesia termasuk yang diklaim,” bebernya.
“Ini peta yang dibuat oleh Dishidros. Dari dulu peta ini memang tidak pernah dipublikasikan. Tetapi bagi saya justru anak bangsa ini harus tahu kalau ternyata ada daerah kita yang diklaim,” tuturnya sambil menunjuk area yang diklaim China dalam slide-nya.
Untuk itu, dirinya berharap agar para pemuda maritim dapat memahami betul bagaimana konflik LCS ini terjadi karena akan berdampak bagi Kedaulatan NKRI yang dilihat dari berbagai perspektif. Di antaranya kepentingan keamanan, kesejahteraan, dan perdamaian.
“Semua masalah itu harus kita lihat secara hukum, sehingga benar dan salahnya dapat kita tentukan. Dan pesan saya yang terpenting, kedaulatan kita tidak bisa tergantikan dengan apa pun,” pungkasnya.
Acara tersebut diakhiri dengan Buka Bersama dan ramah tamah. Selanjutnya dilakukan penyerahan buku karya tulis Pemuda Maritim dari Ketua APMI Reynaldi Bahri Tambunan kepada Laksda TNI Surya Wiranto, serta foto bersama.
